PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL dan PEMBELAJARAN KOLABORATIF


 Kamis, 13 September 2018

MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN  KOLABORATIF

Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang penting dan mendasar bagi pembangunan bangsa di suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak guru saat ini cenderung lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi belajar, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi membosankan.Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu adanya model pembelajaran.

Model Pembelajaran Kontekstual
A.  Pengertian Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yakni:
a)    Konstruktivisme (constructivism)
b)   Bertanya (questioning)
c)    Inkuiri (inquiry)
d)   Masyarakat belajar (learning community)
e)    Pemodelan (modeling)
f)    Penilaian autentik (Authentic Assement)
Secara umum Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, munculnya motivasi belajar, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif, nyaman dan menyenangkan.

Model Pembelajaran Kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya.
Menurut Hower R. Kenneth (2001) model pembelajaran kontekstual  atau CTL adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar dimana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam berbagai konteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulative ataupun nyata, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
B.     Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
·  Kerjasama
·  Saling menunjang
·  Menyenangkan, tidak membosankan
·  Belajar dengan bergairah
·  Pembelajaran terintegrasi
·  Menggunakan berbagai sumber
·  Siswa aktif
·  Sharing dengan teman
·  Siswa kritis guru kreatif
·  Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
·  Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain
C.       Komponen Pembelajaran Kontekstual
1. Konstruktivisme
§  Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal.
§  Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
2. Inquiry
§  Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.
§  Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
3. Questioning (Bertanya)
§  Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.
§  Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
4. Learning Community (Masyarakat Belajar)
§  Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar.
§  Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri.
§  Tukar pengalaman.
§   Berbagi  ide
5. Modeling (Pemodelan)
§  Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar.
§  Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
6. Reflection ( Refleksi)
§  Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari.
§  Mencatat apa yang telah dipelajari.
§  Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
7. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya)
§  Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.
§  Penilaian produk (kinerja).
§  Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual.
Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kontekstual
Ø Kelebihan Model Pembelajaan Kontekstual
1.    Pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dimana siswa dituntun untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan dikehidupan nyata.
2.    Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep pada siswa karena model pembelajaran ini menganut aliran konstruktivisme, dimana siswa dituntut untuk menemukan pengetahuannya sendiri.
Ø Kelemahan Model Pembelajaran Kontekstual
Tugas guru dalam pembelajaran ini adalah mengelola kelas untuk bekerjasama untuk menemukan pengetahuan yang baru bagi siswa dimana dalam hal itu pun kurangnya waktu yang menjadi kendala. Dalam model kontekstual memerlukan waktu yang banyak untuk membimbing siswa. Namun waktu yang tersedia tidak terlalu banyak. Sedangkan siswa harus mampu mengembangkan ide-ide yang mereka punya.Jadi waktu adalah kelemahan utama dalam model pembelajaran kontekstual.

Model Pembelajaran Kolaboratif

A.       Pengertian Model Pembelajaran Kolaboratif

      Menurut Deutch (Feng Chun, 2006), pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja sama untuk memaksimalkan hasil belajar mereka. Lebih khusus, Gokhale (1995) mendefinisikan pembelajaran kolaboratif sebagai pembelajaran yang menempatkan siswa dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam bekerja bersama dalam suatu kelompok kecil untuk mencapai tujuan akademik bersama.
Pengertian pembelajaran kolaboratif sering disamakan dengan pembelajaran
kooperatif, meski ada juga yang membedakannya. Misalnya, Panitz (1996) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan proses yang dilakuan guru untuk membantu siswa agar dapat berinteraksi sesamanya untuk mencapai tujuan spesifik tertentu.
B. Karakteristik dalam belajar kolaboratif adalah :
1.    Siswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan dalam   
      proses belajar, penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota
      bekerja bersama.
2.    Interaksi intensif secara tatap muka antar anggota kelompok.
3.    Masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati.
4.    Siswa harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.
5.    Peran guru sebagai mediator.
6.    Adanya sharing pengetahuan dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa
     dan siswa.
7.    pengelompokkan secara heterogen.
C.LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif.
1.    Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2.    Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis
3.    Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4.    Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5.    Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6.    Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7.    Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8.      Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.

Sumber :
Feng Chun, Miao. 2006. Training Modules on Integrating ICT For Pedagogical Innovation. Makalah disampaikan dalam National Training on Integrating ICT and Taeaching and Learning yang diselenggarakan oleh UNESCO Bangkok bekerja sama dengan SEAMOLEC di jakarta, 6 – 10 Maret 2006.
Mahmudi, Ali. 2006.Model Pembelajaran.Jurnal Seminar Nasional. 1: 6
Panizt dalam (Ali mahmudi).2006. Model Pembelajaran. Jurnal Seminar Nasional 1 : 62


Yang ingin saya diskusikan yakni :

1.    Pada Model pembelajaran Kolaboratif siswa diminta untuk kerjasama dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, pada kenyataan yang kita hadapi hanya siswa yang pintar  atau yang aktif saja yang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, bagaimana solusi saudara/i untuk menghadapi siswa tersebut agar siswa itu ikut aktif dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan ?

2.    Pada Model Pembelajaran kontekstual mempunyai kelemahan yakni memerlukan waktu yang banyak untuk membimbing siswa agar mengembangkan ide-ide yang mereka punya. Apakah menurut saudara/i ada cara agar dalam waktu yang singkat tersebut siswa dapat mengembangkan ide-ide yang mereka punya sehingga pembelajaran tersebut menjadi bermakna atau dapat dipahami oleh siswa tersebut ?

3.    Salah satu komponen pembelajaran kontekstual yakni kontruktivisme dimana pengertian dari konstruktivisme itu sendiri adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan untuk siswa membangun pengetahuan dari pengalaman, interaksi sosial  dan dunia nyata. Menurut saudara/i apakah  model pembelajaran tersebut dapat digunakan pada semua materi sains ? jika tidak berikan alasan dan jika iya berikan alasan ?

Comments

  1. Saya sedikit memberikan tanggapan untuk no.1
    Menurut saya,,disinilah peran guru sebagai fasilitator,motivator dan inovator harus berjalan.guru lebih menitik beratkan perhatiannya pada murid yang kurang aktif.bisa juga di berikan tugas tambahan seperti di jadikan penyaji saat presentasi berlangsung.
    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sangat setuju, trima kasih atas ulasannya. Dalam model ini guru harus menjalankan perannya agar tujuan belajar tercapai

      Delete
  2. Assalamualaikum wr wb. Disini saya ingin memberikan tanggapan untuk soal nomor 2. Agar siswa/i tersebut bisa menyampaikan atau mengembangkan ide"nya, kita sebagai seorang guru harus :
    - menggunakan metode dan kegiatan yang beragam.
    - jadikan siswa peserta aktif
    buat tugas yang menantang namun realistis dan sesuai batas kemampuan siswa tersebut
    - ciptakan suasan kelas yg kondusif
    -melibatkan guru untuk mendorong siswa mencapai hasil
    -hindari komentar buruk .

    ReplyDelete
  3. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1

    Seorang guru harus mampu memahami setiap karakteristik siswa, khususnya bagi siswa yang pasif.. dan pada saat diskusi hanya mengandalkan siswa yg aktif. Hal demikian guru dapat mengatasi dengan Mengembangkan rasa percaya diri anak, Memberikan pertanyaan atau stimilus kepada siswa dan memberikan penghargaan atau penghormatan kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan itu, Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya

    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya setuju dengan saudari selvi dimana seorang pendidik itu harus mampu memahami karakteristik siswa dan juga memberi penghargaan kepada isiswa yang bisa menjawab pertanyaan

      Delete
  4. assalamaalaikum

    saya akan mengomentari pertanyaan nomer 1
    yang harus dilakukan oleh guru adalah
    sebaikmya guru harus mengenali terlebih dahulu karakteristik siswanya, baik itu sifatnya maupun kemampuannya.
    namun apabila ada anak yg kurang aktif, diberikan pengayaan yang lebih berupa tugas tambahan dirumah

    terima kasih ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya setuju dengan pendapat wendra, selain itu juga sebaiknya guru memberikan pembagian tugas kepada setiap anggota kelompok jadi semua siswa akan berperan aktif selama pembelajaran

      Delete
  5. Saya akan mengomentari pertanyaan nomor 3, konstruktivisme merupakan salah satu aliran pendidikan. Belajar bukan hanya menerima informasi dan menghapal. Belajar merupakan kegiatan membangun pengetahuan, menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya sehingga dapat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan.
    Akan terapi penggunaan model pembelajaran Harus disesuaikan dengan materi. Sehingga tidak semua materi sains dapat menggunakan model tersebut, walaupun sebagian besar materi sains sangat cocok dengan model pembelajaran kontekstual.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimaksh atas komentar nya, dsni sya ingin menanggapi sdkt dri pernyataan anda yg mngatakan bahwa penggunaan model pembeljaran hrus disesuaikan dng materi, mnurut anda bgaimana cara kta untk mngetahui apkah materi yg ingin kita smpaikan tersebut cocok atau tidak jika kta mnggunakan model tersebut ??

      Delete
    2. Menentukan cocok atau tidaknya suatu model terhadap materi dengan cara menganalisis materi dari segi kompleksitas, kesinambungan, prasyarat, kaitannya dengan kehidupan nyata, tingkat kesukaran. Hal ini di sesuaikan juga dengan tuntutan kompetensi dasar

      Delete
  6. Pada dasarnya semua materi bisa dikembangkan tergantung dr individu siswa masing", siswa dituntut utk memahami dan menganalisa suatu materi tujuany adalah utk dikembangkan dilingkunganya maupun dimana dia berada, dimana spt yg kita ketahui sumber dr ilmu itu tdk hanya dr sekolah saja, ada juga sumber ilmu dr lingkungan sekitarnya, keluarga maupun dr masyarakat, asalkan dr pihak sekolah mensosialisasikan kpd org tua siswa agar supaya org tua siswa dapat mengawasi dan mengontrol kegiatan anaknya diluar sekolah.itu penjelasan singkat dr jawaban pertanyaan no 3.

    ReplyDelete
  7. Terimakasih ulasan diatas sudah sangat bagus. Sangat membantu sy dalam mengerjakan tugas kampus sya.

    ReplyDelete
  8. agar semua siswa aktif dalam pembelajaran. guru harus terlebih dahulu memahami dan mengenali karakteristik siswa sebelum membagi kelompok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sependapat dengan saudari bestia. Guru harus mengenal karakteristik para siswanya.

      Delete
  9. saya akan menanggapi pertanyaan no 1 tentang solusi saudara/i untuk menghadapi siswa tersebut agar siswa itu ikut aktif dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan yaitu siswa mengajak siswa yang kurang aktif untuk belajar menjadi aktif dan sesama kelompok harus saling bekerjasama.

    ReplyDelete
  10. Saya tertarik untuk menjawab pertanyaan nomor 1. Jika ada siswa yang tidak aktif dalam kegiatan kelompok maka kita dapat memberikan teguran atau memberinya tugas/pertanyaan untuk menggali kemampuan nya menyelesaikan masalah dan berpendapat di muka umum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cara lainnya yaitu membuat pembelajaran lebih menarik dengan reward dan game.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

PEMBELAJARAN ABAD 21

MODEL PEMBELAJARAN KHUSUS IPA